Kepala BPKAD Kota Batam, Abdul Malik, memaparkan bahwa target efisiensi sebesar Rp18.155.350.882 tersebut bersumber dari dua lini utama:
Transformasi Budaya Kerja: Menghemat Rp7,3 miliar melalui penyesuaian sistem kerja digital.
Operasional Kantor: Menghemat Rp10,8 miliar dari pengurangan biaya utilitas dan perjalanan.
Pos anggaran yang dipangkas secara signifikan meliputi tagihan listrik, air, telepon, penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan dinas, serta belanja perjalanan dinas (SPPD).
Klaim Sekda bahwa anggaran Batam tidak sedang “cekak” didukung oleh data realisasi pendapatan. Hingga 31 Maret 2026, pendapatan daerah Batam sudah menembus angka Rp988,1 miliar atau sekitar 23,61 persen dari target tahunan. Sementara itu, belanja daerah baru terserap 18,02 persen atau sebesar Rp775 miliar.
Meski kondisi keuangan stabil, Pemko Batam tetap menginstruksikan seluruh OPD untuk menerapkan kebiasaan hemat energi, seperti mematikan seluruh perangkat elektronik dan pendingin ruangan setelah jam operasional kantor berakhir.
“Penggunaan anggaran harus benar-benar dihitung sesuai kebutuhan riil hingga Desember mendatang. Kita ingin setiap rupiah yang dikeluarkan memiliki dampak maksimal bagi pembangunan,” pungkas Firmansyah.













