Sebagai daerah perbatasan yang jadi “wajah” Indonesia di mata dunia, Natuna tidak boleh dikelola dengan gaya amatiran. Integritas itu harga mati. Birokrasi harus lincah dan bersih. Pelaku usaha harus bersaing secara sehat. Media harus tetap kritis tapi objektif.
Kalau ketiga hal ini jalan bersama, ruang buat praktik-praktik “gelap” otomatis akan makin sempit.
Satu tahun memang belum cukup buat menyulap Natuna jadi sempurna. Ibarat menanam pohon, setahun ini baru masa menyiapkan tanah dan bibit unggul. Tapi setidaknya, hari ini kita sudah bisa melihat arah mata anginnya ke mana.
Pemerintahan hari ini sedang berusaha memulihkan kepercayaan yang sempat luntur. Menegaskan kembali lewat tindakan, bukan cuma kata-kata, bahwa Natuna memang milik kita semua, bukan milik segelintir orang.
Kemajuan itu bukan cuma soal berapa banyak aspal yang digelar, tapi soal seberapa besar rasa percaya rakyat kepada pemimpinnya.













