Gudangberita.co.id – Sepandai-pandainya menutupi jejak kejahatan tingkat tinggi, akhirnya hancur lebur oleh keberanian satu orang. Skandal penyadapan ilegal yang menargetkan Presiden RI Prabowo Subianto rupanya tidak terbongkar oleh operasi intelijen tandingan, melainkan lewat “bocor halus” dari seorang petugas internal Polri yang menolak tunduk pada perintah busuk atasannya.
Kisah nyata bak ‘David melawan Goliath’ ini benar-benar terjadi di pusaran Markas Besar Kepolisian RI (Trunojoyo). Gara-gara nyali sang petugas pengelola data, mantan Kapolri yang kini menjabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal Listyo Sigit Prabowo, beserta dua jenderal lainnya harus rela menukar seragam kebesarannya dengan status tersangka di Bareskrim Polri.
Kabareskrim Polri, Komjen Asep Safrudin, membeberkan bagaimana skandal spionase yang terjadi pada rentang waktu 2025-2026 ini nyaris saja terkubur menjadi misteri abadi. Semua bermula dari kepanikan para petinggi menjelang transisi kekuasaan.
Pada 1 Oktober 2026, Jenderal Listyo Sigit resmi diberhentikan dari kursi Kapolri dan dilantik menjadi KSP. Tongkat komando Trunojoyo pun beralih ke Jenderal Suyudi Ario Seto. Menyadari posisinya berganti, kelompok Listyo Sigit Cs diduga memerintahkan penghapusan seluruh jejak digital penyadapan ilegal tersebut.














