Aksi DN tergolong sangat dingin. Ia memanfaatkan pengetahuannya tentang situasi sekitar untuk masuk melalui lantai atas, mencongkel pintu, dan membongkar lemari penyimpanan perhiasan.
Dalam waktu singkat, emas batangan hingga perhiasan ludes digondol. Pelarian DN berakhir di pelabuhan saat ia mencoba menyeberang ke Sedanau, hanya 30 jam setelah aksi “Spiderman”-nya viral di kalangan warga.
Kini, meski DN sudah diamankan, misteri besar masih tersisa. Barang bukti emas senilai Rp4 miliar tersebut belum sepenuhnya ditemukan. DN memberikan keterangan yang berbelit-belit kepada polisi, mulai dari mengaku tertinggal di kapal hingga klaim lainnya yang belum terbukti.
Bagi Ahmad Sapuari, kejadian ini meninggalkan trauma psikologis yang mendalam. Toko emasnya hingga kini masih tutup rapat. Ia berharap aparat kepolisian, mulai dari Polres Natuna hingga Polda Kepri, dapat mengusut tuntas kasus ini, terutama menemukan kembali barang bukti yang hilang.
Kisah ini menjadi pengingat pahit bagi warga Natuna tentang pepatah lama: air susu dibalas dengan air tuba. Sosok yang dulu dibantu modal usaha, kini justru menjadi orang yang menghancurkan usaha penolongnya dengan aksi “Spiderman” yang sangat tidak terpuji.












