PendidikanZona Headline

Pembatasan Medsos Anak: Antara Proteksi Negara dan Tanggung Jawab Literasi yang Terabaikan

65
×

Pembatasan Medsos Anak: Antara Proteksi Negara dan Tanggung Jawab Literasi yang Terabaikan

Share this article
Ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Kepulauan Riau, Harken
banner 468x60

Di sisi lain, anak-anak juga perlu diberikan ruang untuk berkembang secara kreatif. Media sosial, jika digunakan dengan bijak, sebenarnya dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan ide, berbagi pengetahuan, dan membangun jejaring positif. Oleh karena itu, pendekatan yang diambil tidak boleh mematikan potensi tersebut.

“Kita harus jujur bahwa dunia digital juga membuka banyak peluang. Banyak anak muda yang belajar, berkarya, bahkan berprestasi melalui media sosial. Jangan sampai kebijakan ini justru mematikan potensi itu,” jelasnya.

BACA JUGA:  Polda Kepri Bongkar Mafia BBM Subsidi di Batam, Modus 'Surat Sakti' Rugikan Negara Ratusan Juta

Dengan demikian, pembatasan media sosial seharusnya tidak dipahami sebagai larangan mutlak, tetapi sebagai bagian dari strategi yang lebih besar dalam membangun literasi digital yang sehat. Regulasi perlu berjalan beriringan dengan edukasi, fasilitasi, dan pemberdayaan.

Harken menegaskan bahwa kebijakan ini akan diuji bukan pada seberapa ketat aturan yang dibuat, tetapi pada seberapa besar dampaknya terhadap peningkatan kualitas literasi generasi muda.

BACA JUGA:  Menanti 15 Tahun Jalur Reguler, Wali Kota Batam Amsakar Achmad Pamit Haji dan Titipkan Pemerintahan ke Li Claudia Chandra

“Ini bukan soal membatasi anak dari dunia digital, tetapi bagaimana memastikan mereka siap dan cakap menghadapinya. Negara harus memilih: ingin melahirkan generasi yang dikendalikan, atau generasi yang tercerahkan,” tegasnya.