“Jangan sampai dijadikan celah jalur baru perdagangan orang melalui pengiriman pekerja migran unprosedural lewat pintu depan,” ujar Romo, Minggu (13/4/2025) malam.
Romo tak asal bicara. Ia membawa data dari BP3MI Kepri tahun 2024: dari 2.910 PMI dideportasi dari Malaysia, 1.405 berangkat dari pelabuhan resmi di Kepri. Batam Center memimpin angka tertinggi dengan 1.014 orang.
Tak berhenti di situ. Baru empat bulan berjalan di 2025, sudah 1.492 PMI dideportasi, dan 1.307 di antaranya diketahui berangkat melalui pelabuhan resmi. Lagi-lagi, Batam Center jadi titik terbanyak.
“Bertahun-tahun terjadi. Tapi otoritas tampak membiarkan, atau tak cukup serius menghentikan,” tegas Romo.
Pelabuhan Megah, Risiko Juga Besar
Pelabuhan Gold Coast hadir membawa harapan. Melayani rute Batam – Stulang Laut (Malaysia) lewat operator Dolphin Ferry, terminal ini digadang menjadi simpul baru mobilitas dan pariwisata internasional.
Namun, seperti pisau bermata dua, pelabuhan dengan lalu lintas manusia tinggi juga menjadi target ideal sindikat perdagangan orang, terutama jika pengawasan di pintu keluar-masuk longgar.
“Kami bukan anti pembangunan. Tapi kami menolak jika kemegahan ini justru membuka jalur baru bagi mafia. Harus ada jaminan perlindungan bagi calon pekerja migran dan masyarakat rentan lainnya,” tutur Romo.









