Situasi ini dirasa kian menjepit karena kebijakan penghentian operasional bertepatan dengan momen tahun ajaran baru sekolah. Di saat para pekerja membutuhkan biaya ekstra untuk kebutuhan masuk sekolah anak-anak mereka, keran penghasilan dari dapur MBG justru tersendat.
Sebagian besar pekerja dapur MBG mengaku menggantungkan stabilitas dapur rumah tangga mereka sepenuhnya pada keberlangsungan program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto ini.
Selain masalah ekonomi pekerja, aliansi juga mengkritik dampak sosial dari penutupan dapur saat libur sekolah. Program MBG yang sejatinya menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita untuk pencegahan stunting, menjadi ikut lumpuh total karena aktivitas sekolah diliburkan.
Sambil membawa spanduk dan berorasi secara bergantian di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian, massa aksi menyampaikan lima poin pernyataan sikap untuk menyelamatkan nasib para pekerja dan keberlanjutan program:
Dukung Program Pemerintah: Mendukung penuh Program Makan Bergizi Gratis sebagai pilar strategis peningkatan gizi generasi bangsa.
Keberlanjutan yang Merata: Mendorong penguatan pelaksanaan program agar manfaatnya dirasakan konsisten oleh masyarakat dan pekerja.
Mendesak Evaluasi Kebijakan: Meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap regulasi baru yang dinilai merugikan tenaga kerja di lapangan.










