KepriKeuanganZona Headline

Nasi Lauk Makin Mahal? BI Kepri Ungkap Pemicu Inflasi dan Langkah Penanganannya

43
×

Nasi Lauk Makin Mahal? BI Kepri Ungkap Pemicu Inflasi dan Langkah Penanganannya

Share this article
Warung makanan
Warung makan. (Foto: ilustrasi)
banner 468x60

Kabar Baik: Kepri Masih “Juara” di Sumatera

Meski warga merasakan kenaikan harga, secara makro, kondisi ekonomi Kepri sebenarnya masih jauh lebih stabil dibanding wilayah lain. Inflasi tahunan Kepri tercatat 3,54% (yoy)—jauh lebih rendah dari angka Nasional yang mencapai 4,76% (yoy).

Bahkan, Kepri dinobatkan sebagai provinsi dengan inflasi terendah ketiga di seluruh wilayah Sumatera. Artinya, kenaikan harga di Kepri masih lebih terkendali dibandingkan provinsi tetangga.

BACA JUGA:  Polisi Selidiki Penyebab Bus Jemaat HKBP Tembesi Terbalik di Tikungan Pantai Melur

Bank Indonesia tidak tinggal diam melihat dompet warga yang semakin tipis. Lewat sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), beberapa langkah nyata sedang dan akan terus dilakukan:

Operasi Pasar Murah: Pelaksanaan pasar murah serentak di seluruh Kepri untuk memotong rantai distribusi yang mahal.

Gerakan Pangan Sejahtera (GPIPS): Program baru yang fokus memperkuat pasokan pangan di tingkat hulu (petani/nelayan) agar stok di pasar selalu ada meski cuaca ekstrem.

BACA JUGA:  Jadwal Babak 32 Besar Piala Dunia 2026: Brasil vs Jepang, Dominasi Sejarah Lawan Kejutan Tokyo

Kabar Segar dari Laut & Ladang: BI memprediksi harga akan mulai melandai pada Maret seiring masuknya musim panen cabai dan bawang, serta meredanya angin utara yang akan membuat stok ikan melimpah.

“Ke depan, Bank Indonesia bersama TPID akan terus memperkuat sinergi. Peningkatan produksi pangan dan penguatan koordinasi diharapkan menjaga inflasi tetap terkendali dalam rentang target 2,5 ± 1 %,” jelas Rony Widijarto dalam keterangan resminya, Rabu (4/3/2026).