Lebih jauh, ia menyentil kalimat pamungkas andalan korporasi tersebut yang selalu berlindung di balik dalih “sulitnya lokasi pengerjaan serta terdapat beberapa gangguan teknis.” Karena masalah ini terus berulang tanpa mitigasi, Junius menyebut rentetan alasan tersebut sebentar lagi bisa diwariskan ke anak cucu.
“Alasan-alasan itu katanya bentar lagi jadi warisan budaya, tinggal daftar ke UNESCO. Masa gak belajar dari kesalahan? Kalau lokasi pengerjaan gini, maka tindakan begini, pencegahan begini, teknisnya gini. Bukan tiap kali alasan sama (sulitnya lokasi). Tolong orang hebat berpendidikan tinggi yang menjabat di sana, berpikir!” tegasnya retoris.
Siksaan bagi warga tidak berhenti sampai di situ. Junius membeberkan fakta ironis di mana setelah seharian penuh air mati total, ketika aliran keran kembali hidup, air yang keluar justru berwarna keruh pekat. Kondisi ini diakuinya sempat membuat dirinya kehabisan kata-kata di depan kamera.
LIRA Batam Bereaksi: Pelayanan Jelek, ABH Harus Diganti!
Sengkarut pelayanan air yang kian suram ini langsung memantik reaksi keras dari elemen sipil. Wali Kota Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Batam, Herry Sembiring, secara blak-blakan mendesak agar PT ABH segera dicopot dan diganti dengan pengelola layanan air bersih yang lebih kompeten.













