Herry menegaskan bahwa kualitas pelayanan yang buruk dan tingginya intensitas air mati membuktikan ketidakmampuan manajemen dalam memenuhi kebutuhan dasar warga Batam.
“Layanan air bersih jelek, tidak mampu memenuhi kebutuhan air bagi warga Batam. Kualitas air jelek, air sering mati. Ini hak dasar masyarakat yang tidak boleh terus-menerus dikorbankan,” ujar Herry Sembiring kepada media, Senin (8/6/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, puncak krisis air massal kembali menghantam kawasan padat penduduk di wilayah Batam Centre pada Senin, 8 Juni 2026. Aktivitas domestik warga pun terganggu.
Sejumlah kawasan yang terdampak di antaranya: Pulomas Residence, Perumahan Golden Land, Pondok Idaman dan sekitarnya.
Publik kini mendesak pihak regulator dan BP Batam untuk segera mengambil tindakan tegas atas rapor merah PT ABH, bukan sekadar menerima pembelaan di media sosial.













