RS Bhayangkara Mengaku Kehabisan Anggaran
Sementara itu, RS Bhayangkara Polda Kepri angkat bicara soal penagihan biaya autopsi kepada keluarga. Mereka menyebut penagihan biaya autopsi itu dilakukan karena kehabisan anggaran.
“Kami kan ada anggaran. Anggaran ada dua, satu anggaran rumah sakit satu dari Polda Kepri, sudah ada mata anggarannya. Mata anggarannya itu sudah habis,” kata Kepala RS Bhayangkara Polda Kepri, dr. Novita Wahyu H, Rabu (13/12/2023) via detikom.
Novita menjelaskan bahwa anggaran untuk penanganan autopsi yang dimiliki oleh RS Bhayangkara Polda Kepri habis karena banyaknya kasus yang ditangani pihaknya. Ia menjelaskan bahwa biaya autopsi yang ditagihkan ke keluarga pasien itu digunakan untuk membayar jasa dokter.
“Memang jumlah kasus di Batam itu sangat meningkat. Biasanya kita akan kelabakan bulan-bulan jelang akhir tahun seperti ini. Biasanya anggaran sudah habis,” ujarnya.
“Tetapi untuk jasa dokter, dokter ini dari luar, nggak mungkin nggak dibayar dokternya. Kalau misal dia dokter polisi bisa ditahan. Kalau dokter luar tak mungkin dari rumah sakit karena di Bhayangkara juga honorer semua, bukan polisi atau organik. Mereka hanya membayar dokternya,” tambahnya.
Novita menerangkan jika anggaran RS Bhayangkara Polda Kepri masih ada, pihaknya tidak mungkin menagihkan biaya autopsi ke keluarga korban. Ia menyebut dalam pengajuan anggaran RS Bhayangkara pihaknya selalu meminta lebih dari tahun sebelumnya, namun saat anggaran turun tidak sesuai dengan anggaran yang diajukan.













