“Kalau hari biasa sepi, tapi weekend lumayan rame. Bisa jutaan sehari,” cerita Eva, pedagang telur gulung yang setia menggelar lapaknya. Lis, pedagang di kawasan pantai, pun sependapat, “Sekarang makin banyak saingan, tapi tetap ada aja yang mampir kalau malam Minggu.”
Sayangnya, euforia bazaar tak sepenuhnya memadamkan kegelisahan. Ramadan lalu jadi contoh nyata: meski ratusan lapak berdiri, pembeli jauh berkurang. “Sekarang orang belanja nggak lagi ngotot kualitas, yang penting murah dan gampang,” ungkap Soni Chaniago, penggiat UMKM. Ia menyebut pergeseran masif menuju marketplace online seperti Shopee dan TikTok Shop sebagai penyebab utama.
“Bukan daya beli yang turun, tapi uangnya lari ke online,” tegasnya. Realitanya, perputaran uang tetap deras—hanya saja bukan lagi di pasar tradisional atau mall, tapi di layar ponsel yang selalu digenggam.
Ironi lain juga tampak dari sektor pariwisata. Jeff Sidik, turis asal Singapura, menilai Tanjungpinang butuh gebrakan lebih. “Laut dan pantai semua negara punya. Tapi yang khas Melayu Kepulauan harus dikemas lebih menarik. Wisatawan bukan sekadar datang, tapi ingin bertahan lama dan belanja.”
Kota Tanjungpinang kini berada di persimpangan besar: antara harapan menjadi pintu gerbang ASEAN yang kuat atau terjebak sebagai kota pelabuhan yang hanya hidup di masa lalu. Pembenahan bukan hanya soal fisik, tapi juga membangun karakter ekonomi baru yang adaptif.









