Ia mengimbau masyarakat untuk memberikan kepercayaan dan ruang gerak bagi para pemangku kebijakan serta pihak berekspertise dalam menyelesaikan persoalan teknis ini.
“Marilah kita menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Berikan ruang kepada mereka yang memiliki ilmu, keahlian, dan amanah untuk menjalankan tanggung jawabnya. Kita dukung setiap ikhtiar yang baik demi kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Dalam tradisi Melayu, musyawarah dan mufakat menjadi jalan utama mempertemukan pandangan, didukung kesantunan agar perbedaan tidak memicu perselisihan. Falsafah kuno berat sama dipikul, ringan sama dijinjing pun kembali digaungkan sebagai pengingat akan pentingnya kepedulian sosial.
“Kalau ada yang perlu diperbaiki, mari kita perbaiki dengan cara yang baik. Jangan sampai keadaan yang sulit membuat kita saling menyalahkan dan kehilangan rasa persaudaraan,” tegasnya.
Sebagai kota yang tumbuh dari keberagaman suku, agama, dan budaya, Batam tidak hanya disokong oleh kemajuan infrastruktur dan investasi, tetapi juga oleh ketenteraman kehidupan sosial masyarakatnya. Kemajuan ekonomi, menurutnya, akan kehilangan makna jika warga tidak lagi merasakan kedamaian dalam bertetangga dan beraktivitas.














