Sejumlah pengurus LAM Batam juga turut hadir, mulai dari YM Raja Erwan, Dato’ Taufik Muntashir, Dato’, Zulkifli Lukman, Dato’ Syamsudin Ja’far Tun Kelana, Dato’ Mustari, hingga Dato’ Ardiwinata bersama Ketua dan Pengurus LAM kecamatan se-Kota Batam.
Raja Amin dalam sambutannya yang bijak mengutip gurindam Melayu tentang pentingnya kepemimpinan dan marwah: “Bila negeri tidak beraja, bila kampung tak berpenghulu, bila rumah tidak bertuan, angin lalu tempias pun lalu, tuah hilang marwah terbuang, hidup celaka sengketa pun datang.”
Menurutnya, nilai yang terkandung dalam bait tunjuk ajar Melayu itu masih relevan dalam menjaga tatanan sosial hari ini. Karena itu, ia menekankan kembali slogan LAM Batam: “Tegak memelihara Tuah, berdiri menjalankan Amanah, Duduk menjaga Marwah.”
Momentum Milad ke-25 LAM Batam pada setiap tanggal 10 September menjadi istimewa. LAM Batam akan meluncurkan “Batam Bertanjak” yang diproyeksikan sebagai ikon budaya baru, sekaligus menetapkan 10 September sebagai Hari Bertanjak yang diperingati setiap tahun.
Puncak acara akan berlangsung Ahad, 14 September 2025, di Dataran Engku Putri, bersamaan dengan Silaturahmi Akbar Ormas dan Paguyuban se-Kota Batam.
Aktivis Melayu, M. Nur, menyebut acara ini harus menjadi ajang unjuk diri dan eksistensi Melayu, sementara Alin dari Melayu Raya mengusulkan perlunya dibentuk Perhimpunan Saudagar Muda Melayu agar kaum muda dapat memperkuat basis ekonomi.













