Selain menyusun agenda budaya, LAM Batam juga mengumumkan sejumlah program kerja strategis untuk periode 2025–2028. Di antaranya adalah penyelesaian persoalan Rempang dan sertifikasi kampung tua, pembangunan Kampung Adat atau Taman Mini Batam Madani, serta memberi prioritas kerja bagi generasi muda Melayu.
LAM juga menekankan perlunya Peraturan Daerah (Perda) tentang LAM Batam. Dalam ranah simbolik, LAM meminta agar pembangunan patung di titik-titik strategis kota tidak dilakukan tanpa koordinasi dengan lembaga adat, serta mendorong pemutaran lagu Melayu di pelabuhan, hotel, dan pusat perbelanjaan.
Tidak berhenti di situ, tekad LAM Batam juga terlihat dalam sejumlah azam. Setiap acara resmi LAM diminta untuk diawali dengan sholawat, nama jalan dan simpang yang tidak tepat akan dikaji ulang, dan penamaan bundaran diarahkan pada identitas lokal seperti Taman Mustika Alam, Bundaran Ufuk Selatan, Bundaran Cik Puan Bulang.
“LAM juga meminta sekolah-sekolah di Batam untuk menampilkan foto pahlawan nasional asal Kepri : Sultan Mahmud Riayatsyah, Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji, sebagai bagian dari pendidikan sejarah dan kebanggaan daerah,” ujar YM H. Raja M Amin.
Di penghujung acara, LAM Batam juga menggulirkan tagar #BarelangKampungKite sebagai semangat kolektif. Sebuah seruan yang menyiratkan ajakan untuk kembali pada akar, menjaga marwah, dan memastikan Batam tetap menjadi rumah besar bagi Melayu yang hidup harmonis bersama suku bangsa lainnya.













