Gudangberita.co.id, Batam – Usulan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau Kota Batam untuk mengganti nama 46 persimpangan dan bundaran dengan nuansa sejarah Melayu menuai reaksi beragam dari warga.
Meski dinilai penting untuk menjaga identitas negeri, sejumlah netizen justru mengkhawatirkan nama-nama tokoh yang panjang akan sulit diingat oleh masyarakat awam.
Melalui pantauan di Fanpage Gudangberita.co.id, banyak warga Batam yang memberikan masukan agar penamaan ruang publik tetap mengedepankan sisi praktis sebagai penanda jalan. Warga berpendapat bahwa selama ini mereka lebih terbiasa dengan nama yang sederhana seperti Simpang Sei Panas atau Simpang Nagoya.
“Tolonglah kasih yang simpel. Kalau rumit-rumit, coba tanyakan aja nama-nama jalan di Batam ini ke warga, pasti nggak ada yang tau. Kalaupun bernuansa Melayu, carilah yang mudah disebut dan familiar,” ungkap salah seorang warga di kolom komentar.
Beberapa netizen bahkan mengusulkan agar LAM mengeksplorasi kekhasan budaya Melayu yang lebih dekat dengan keseharian, seperti Simpang Tanjak, Simpang Gasing, atau nama kuliner lokal seperti Simpang Luti Gendang dan Simpang Prata agar sekaligus mempromosikan pariwisata Batam.
Sebelumnya, LAM Batam di bawah kepemimpinan YM Raja Haji Muhammad Amin telah melayangkan surat resmi kepada Wali Kota Batam/Kepala BP Batam pada 8 Mei 2026. LAM merumuskan usulan perubahan nama ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat marwah dan identitas Melayu di ruang publik.













