Kondisi lebih ekstrem dilaporkan terjadi di wilayah Marina. Desima Sitorus mengungkapkan bahwa air di wilayahnya tidak hanya kuning, namun terkadang ditemukan cacing di dalamnya.
Kondisi ini memicu warga untuk saling berbagi “tips bertahan hidup”. Netty, salah satu warga, menyarankan agar warga hanya membuka kran air sedikit saja agar kotoran dan endapan di pipa tidak ikut tersedot ke dalam bak mandi.
Menurunnya kualitas air ini membuat sebagian warga mulai bernostalgia dan membandingkan kinerja PT ABH dengan pengelola sebelumnya, Adhya Tirta Batam (ATB).
“Kalau menurutku ATB sih air di rumahku dulu bersih jernih, sekarang berwarna,” ujar Sugiarti, senada dengan banyak warga lainnya yang merasa standar air bersih di Batam mengalami degradasi sejak peralihan pengelolaan.
Meskipun beberapa wilayah seperti Batam Center dan Sekupang dilaporkan masih dalam kondisi normal, namun “jeritan” warga dari berbagai pelosok Batam ini menjadi alarm keras bagi PT ABH dan BP Batam selaku pemegang regulasi untuk segera melakukan pembenahan total sebelum krisis kepercayaan publik semakin meluas.
Pihak redaksi sedang berusaha meminta konfirmasi atau tanggapan resmi dari manajemen PT ABH/Moya













