Ape KesahPolitikZona Headline

Kisah Prabowo Subianto, Selalu Menolak Kalah di Pilpres 2014 dan Pilpres 2019

588
×

Kisah Prabowo Subianto, Selalu Menolak Kalah di Pilpres 2014 dan Pilpres 2019

Share this article
Prabowo Subianto. (foto: ist)
banner 468x60

Jokowi memenangkan pemilihan di 21 provinsi dengan total suara 85.036.828 (55,41%). Sementara lawannya, yakni Pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno memenangkan suara di 13 provinsi dengan jumlah 68.442.493 suara (44,59%). Selisih suara dari Jokowi dan Prabowo mencapai 16.794.335

Pilpres 2014

Pada Pilpres 2014, Prabowo Subianto berpasangan Hatta Rajasa. Saat hasil Pemilu akan diumumkan, Prabowo justru memutuskan menarik diri dari proses pilpres 2014. Pilpres ini merupakan pertarungan Prabowo-Hatta (nomor urut 1) vs Jokowi-Jusuf Kalla (nomor urut 2).

BACA JUGA:  Sambut Mudik Lebaran 2026, Indosat Perkuat Jaringan di Sumatra dan Luncurkan Fitur Anti-Scam WhatsApp Pertama

Dua jam menjelang pengumuman resmi hasil penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta, calon presiden Prabowo Subianto menyatakan menolak hasil pemilihan umum dan menarik diri dari proses pemilihan presiden.

Kepada wartawan di markas tim pemenangan Rumah Polonia, Jakarta, Selasa (22/7/2014), Prabowo Subianto menilai pelaksanaan pilpres telah cacat hukum.

BACA JUGA:  Dubes Iran: Board of Peace itu Percuma dan Tak Akan Ada Efeknya untuk Perdamaian

“Maka kami capres cawapres Prabowo-Hatta sebagai pengemban suara dari rakyat sesuai pasal 1,2,3 UUD 1945 akan menggunakan hak konstitusional kami yaitu menolak pelasanaan pilpres yang cacat hukum. Dengan demikian kami menarik diri dari proses yang sedang berlangsung,” ujarnya.