AnambasZona Headline

Di Balik Kemudi Mobil Jenazah Anambas, Kisah Ketulusan Aipda Raja Faisal Mengabdi Tanpa Imbalan

2
×

Di Balik Kemudi Mobil Jenazah Anambas, Kisah Ketulusan Aipda Raja Faisal Mengabdi Tanpa Imbalan

Share this article
Aipda Raja Faisal Mushawir mengenakan seragam polisi saat bersiap mengemudikan mobil jenazah untuk melayani warga di Kepulauan Anambas
Aipda Raja Faisal Mushawir membantu membawa keranda mayat dan saat bersiap mengemudikan mobil jenazah untuk melayani warga di Kepulauan Anambas.
banner 468x60

Bagi sebagian besar orang, sirine mobil jenazah atau aroma kabut duka adalah hal yang paling dihindari. Namun, bagi Aipda Raja Faisal Mushawir, momen-momen sunyi di saat sebuah keluarga kehilangan orang tercinta justru menjadi ruang baginya untuk hadir mengulurkan tangan.

Di luar seragam cokelat kepolisian yang dikenakannya sebagai personel Polsek Siantan, Polres Kepulauan Anambas, pria yang akrab disapa Raja Faisal ini memikul tanggung jawab lain yang tak biasa: menjadi sopir mobil jenazah sukarela bagi warga kepulauan yang sedang berduka.

BACA JUGA:  Penting bagi Orang Tua! Ini Catatan Polda Kepri Usai Cek 5 Daycare di Kota Batam

Aksi kemanusiaan yang dijalankannya di luar tugas kedinasan utama sebagai anggota Polri ini bukanlah gerakan musiman. Tanpa terasa, pengabdian sunyi ini telah dilakoninya dengan penuh ketulusan hati selama hampir satu dekade, tepatnya sejak tahun 2017 hingga sekarang.

Aipda Raja Faisal Mushawir mengenakan seragam polisi saat bersiap mengemudikan mobil jenazah untuk melayani warga di Kepulauan Anambas

Jalan pengabdian ini terbuka secara tidak sengaja sembilan tahun lalu. Kala itu, sopir mobil jenazah yang biasa bertugas di wilayahnya berhenti bekerja. Melihat ada kekosongan yang krusial di tengah kebutuhan mobilitas warga kepulauan yang tinggi untuk pengurusan jenazah, hati Raja Faisal tergerak.

BACA JUGA:  Polda Kepri Bongkar Sindikat Impor Barang Bekas Ilegal dari Singapura: Ratusan Pakaian dan Sepatu Disita di Batam Center

Ia memutuskan untuk melompat ke kursi kemudi, menggantikan peran tersebut agar proses pemakaman warga tidak terhambat. Apa yang awalnya diniatkan sebagai bantuan darurat, perlahan bertransformasi menjadi rutinitas yang ia jalani dengan penuh keikhlasan.

Hingga hari ini, ia konsisten bersiap kapan saja panggilan duka itu datang, tanpa pernah mengharapkan atau menerima imbalan sepeser pun.