Pemadaman diprioritaskan pada titik api yang mengarah ke kebun sagu milik masyarakat sekitar. Dari total 32 hektare lahan terdampak, sekitar 20 hektare berhasil dipadamkan dan dilokalisir.
Warga bersama petugas gotong royong membuka akses jalan baru dan membuat sekat/jalur pemutus api (firebreak).
Petugas menghadapi cuaca panas ekstrem, angin kencang, keterbatasan pasokan air, keterbatasan panjang selang pemadam, serta material kayu lapuk yang mudah terbakar.
Dipastikan nihil (nol) korban jiwa, sementara kerugian materiel masih dalam tahap pendataan.
Untuk menjaga suplai air ke titik kritis yang sulit dijangkau, tim menambah tandon air ke-4 di lokasi terdekat dari sumber air. Pihak Kepolisian juga gencar melakukan Pengumpulan Bahan Keterangan (Pulbaket) serta berkoordinasi erat dengan Kepala Desa Kudung, Kepala Desa Teluk, dan manajemen PT CSA.
Proses penyisiran dan pemadaman susulan dijadwalkan kembali berlanjut pada Senin (7/9/2026). AKBP Pahala Martua Nababan mengingatkan masyarakat untuk tidak sekali-kali membuka lahan dengan cara membakar di tengah cuaca kering.
“Pencegahan adalah langkah yang paling penting. Kami mengimbau masyarakat untuk melapor sekecil apa pun titik api yang ditemukan agar segera ditangani sebelum meluas,” pungkasnya.













