Di Batam, ada sebuah kapal yang tak memiliki baling-baling, tak pernah mengarungi Selat Singapura, dan tak mengenal pasang surut laut. Namun selama bertahun-tahun, “kapal” ini diyakini mampu membuat penumpangnya kehilangan keseimbangan bukan karena ombak, melainkan karena malam.
Warga Batam menyebutnya dengan nada bercanda: kapal yang tak pernah jalan, tapi bikin orang oleng.
Yang dimaksud bukan kapal sungguhan, melainkan Pacific Palace Hotel, bangunan raksasa yang dari kejauhan tampak seperti kapal pesiar mewah yang bersandar abadi di daratan. Bentuknya unik, ikonik, dan nyaris tak tertukar dengan bangunan lain di Batam.
Namun Pacific Palace bukan sekadar hotel. Pada masanya, ia adalah salah satu pusat gravitasi hiburan malam Batam.
Ketika Kapal Itu Masih Bergoyang

Sekitar satu dekade lalu, sebelum diskoteknya tutup pada 2018, Pacific Palace hidup nyaris tanpa jeda. Malam baru benar-benar dimulai ketika jam mendekati tengah malam. Lampu-lampu luar gedung berpendar seperti dek kapal. Musik berdentum dari dalam, menembus dinding tebal, bercampur suara tawa dan langkah kaki pengunjung.
Di sinilah Goblin menyimpan satu fragmen memori yang hingga kini masih lekat di kepalanya.
“Itu sudah lama, mungkin sepuluh tahun lalu,” katanya, membuka cerita.
Saat itu Goblin datang sebagai tamu. Bukan pencari hiburan malam, apalagi pemburu sensasi. Ia hanya memenuhi ajakan seorang rekan lama yang kebetulan berada di Batam. Penampilannya, kata dia, biasa saja kemeja rapi, sepatu sport, gaya eksekutif muda yang tak mencolok.







