Goblin hanya tersenyum.
Ketika Malam Terlalu Ramai

Perempuan itu pergi. Suasana room kembali tenang. Namun tak lama, tamu-tamu lain datang. Tawaran kembali muncul. Obrolan mulai bergeser. Energi ruangan berubah.
“Sudah mulai banyak yang nawar-nawarin aneh-aneh,” kata Goblin.
Ia melihat jam. Pukul satu dini hari. Ia pamit. Berjabat tangan. Melangkah keluar. Lorong masih hidup. Musik masih berdentum. Kapal itu, meski tak bergerak, terasa seperti sedang bergoyang.
“Keluar dari situ, saya cuma mikir: untung nggak ikut-ikutan,” ujarnya.
Tahun-tahun berlalu. Diskotek Pacific akhirnya tutup sekitar 2018. Razia yang berulang, stigma negatif, dan tekanan ekonomi membuat operasionalnya tak lagi bertahan. Pengelola berkali-kali menyatakan keberatan atas cap buruk yang dilekatkan, sementara hotel tetap berjalan seperti biasa.
Kini, Pacific Palace masih berdiri. Bar dan karaoke masih ada. Namun gemuruh masa lalu telah meredup.
Ia tetap disebut-sebut. Tetap jadi cerita. Tetap jadi guyonan.
Sebuah “kapal” yang tak pernah berlayar, tapi pernah membawa banyak orang ke malam yang membuat mereka lupa daratan.
Dan bagi Batam, legenda semacam itu tak pernah benar-benar tenggelam.







