“Dari luar sudah kelihatan kayak kapal,” ujarnya. “Begitu masuk, atmosfernya langsung beda.”
Pintu kaca terbuka. Udara dingin AC menyergap. Aroma parfum bercampur alkohol menguar. Musik berdentum rendah tapi konstan cukup untuk membuat dada ikut bergetar.
Mereka naik lift.
Lampu lift temaram. Cermin di dinding memantulkan bayangan wajah yang tampak lebih serius dari biasanya. Saat pintu terbuka, lorong VIP karaoke menyambut panjang, berkarpet tebal, dengan lampu kuning redup yang membuat semua terlihat setengah nyata, setengah ilusi.
Lorong yang Menawarkan Banyak Hal

Di lorong itu, lalu lalang perempuan berpakaian minim terasa biasa. Gaun pendek, sepatu tinggi, riasan tebal. Senyum-senyum yang tampak terlatih.
“Seperti jualan kacang,” Goblin terkekeh mengingatnya.
Beberapa orang mendekat, berbisik singkat, menawarkan sesuatu. Temannya menjelaskan pelan: ekstasi. Goblin menggeleng. Ia menolak halus.
“Saya memang bukan orang dunia begitu,” katanya. “Saya cuma mau ketemu teman lama.”
Mereka masuk ke ruang VIP karaoke. Pintu tertutup. Musik berganti. Sofa empuk melingkar, meja rendah dengan botol minuman, lampu LED berubah warna pelan-pelan. Di ruangan itu, temannya sudah menunggu ditemani seorang perempuan.







