Obrolan nostalgia pun mengalir. Cerita lama, tawa kecil, saling menepuk bahu. Goblin menolak alkohol, memilih minuman isotonik. Waktu berjalan tanpa terasa.
Hingga pintu kembali terbuka.
Pria Berdasi Kupu-Kupu

Seorang pria masuk. Setelan rapi. Dasi kupu-kupu mencolok. Wajahnya penuh senyum profesional senyum yang sering muncul di dunia hiburan malam.
Di belakangnya, dua perempuan muda melangkah masuk.
“Cantik-cantik,” kata Goblin. Salah satunya, dalam ingatannya, mirip artis sinetron yang dulu sering muncul di televisi. Mungkin berlebihan, mungkin sugesti lampu redup. Tapi wajah itu terpatri jelas di kepalanya.
Pria berdasi kupu-kupu itu bicara cepat. Menawarkan jasa LC. DP Rp500 ribu. Sekadar menemani di dalam room.
Salah satu perempuan itu langsung mendekat ke Goblin. Duduk di sebelahnya. Suaranya lembut.
“Kamu sama aku aja ya,” katanya.
Goblin mengaku sempat bingung. Ia menoleh ke temannya. Mengira malam itu akan ditraktir. Namun jawabannya justru tawa lepas.
“Emang lu mau bayar?” kata temannya.
Situasi menjadi canggung. Goblin akhirnya jujur. Ia membatalkan. Perempuan itu cemberut ngambek dengan cara yang, kata Goblin, “imut”.
“Aah kamu deh,” ucapnya sambil berdiri.
Pria berdasi kupu-kupu kembali bicara. Perempuan itu akan turun ke diskotek, tampil sebagai dancer. Nanti, setelah selesai, bisa kembali ke room VIP. Bahkan sempat berkelakar: “Kalau mau dibawa pulang juga boleh.”







