Namun, bagi warga yang bertahan seperti ibu tersebut, argumentasi prosedur dan investasi terasa tawar saat dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka tak lagi memiliki atap untuk berteduh. Uang belasan juta rupiah yang ditawarkan dianggap tidak akan mampu membeli kembali ketenangan dan tempat tinggal yang layak di Kota Batam yang kian mahal.
Kini, di lahan yang akan segera disulap menjadi kawasan industri atau komersial itu, hanya tersisa puing-puing bangunan dan kenangan warga yang kalah oleh deru ekskavator. Investasi memang akan datang, namun bagi warga Sungai Binti, hari itu hanya ada luka yang sulit sembuh.













