Komitmen pemerintah dalam membagikan 105.670 stel seragam gratis dan beasiswa bagi anak hinterland patut diapresiasi sebagai langkah konkret perlindungan sosial. Namun, perhatian terhadap “wajah belakang” kota tampak belum seprogresif sektor pendidikan.
Pengelolaan sampah masih menjadi rapor merah yang paling menyengat. Janji pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan belum sepenuhnya terlihat dampak instannya. Tumpukan sampah di titik-titik rawan dan ketergantungan pada TPA Punggur yang kian sesak menunjukkan adanya celah besar antara visi “Batam Kota Baru” dengan eksekusi tata kelola lingkungan di tingkat tapak.
Satu tahun terakhir, Batam memang bergerak cepat dalam pembangunan infrastruktur. Namun, kecepatan ini justru menciptakan tantangan baru. Normalisasi drainase dan pembangunan rumah pompa yang dipaparkan pemerintah seolah berkejaran dengan titik banjir baru yang muncul setiap kali hujan deras melanda.
Amsakar secara jantan mengakui tantangan ini. “Kami tidak menutup mata. Persoalan sampah, banjir, dan air bersih menjadi prioritas yang kami selesaikan secara bertahap,” ujarnya di hadapan publik. Pengakuan ini dinilai sebagai langkah etis, namun publik kini menuntut lebih dari sekadar pengakuan—mereka menuntut solusi permanen.













