BatamBatam Punya CeritaZona Headline

Cerita Dibalik Nama-nama Pahlawan yang Disematkan di 6 Jembatan Barelang

1742
×

Cerita Dibalik Nama-nama Pahlawan yang Disematkan di 6 Jembatan Barelang

Share this article
Jembatan Barelang. (ist)
banner 468x60
  1. Jembatan Sultan Zainal Abidin (Jembatan IV)
Jembatan Sultan Zainal Abidin (Jembatan IV) menghubungkan Pulau Rempang – Pulau Galang

Sultan Zainal Abidin. Ia adalah sosok keturunan dari Kerajaan Tambusai, Rokan Hulu, yang dinilai berjasa semasa perang menentang kolonial Belanda.

Sultan Zainal Abidin lahir dan dibesarkan di Kampung Binuang Sakti, yang kini sudah menjadi Desa Rantau Binuang Sakti, Kecamatan Kepenuhan, Rokan Hulu. Ia wafat pada 5 September 1916 silam di Kediri, Jawa Timur

  1. Jembatan Tuanku Tambusai (Jembatan V)
BACA JUGA:  Amsakar Achmad Optimis, Tapi Sengketa Lahan Masih Jadi Momok Koperasi Merah Putih di Batam
Jembatan Tuanku Tambusai (Jembatan V) menghubungkan Pulau Galang – Pulau Galang Baru

Tuanku Tambusai lahir di Daludalu, sebuah desa yang buberbatasan dengan Sumatera Utara, nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau. yang didirikan di tepi sungai Sosah, anak sungai Rokan. Tuanku Tambusai memiliki nama kecil Muhammad Saleh, yang setelah pulang haji, ia dikenal sebagai Tuanku Haji Muhammad Saleh.

Untuk memperdalam ilmu agama, Tuanku Tambusai pergi belajar ke Bonjol dan Rao di Sumatera Barat. Disana ia banyak belajar dengan ulama-ulama Islam yang berpaham Paderi, hingga dia mendapatkan gelar fakih.

BACA JUGA:  Siap-Siap! Pemko Batam Rancang Skema Baru Klasifikasi Tarif Retribusi Sampah

Ajaran Paderi begitu memikat dirinya, sehingga ajaran ini disebarkan pula di tanah kelahirannya. Disini ajarannya dengan cepat diterima luas oleh masyarakat, sehingga ia banyak mendapatkan pengikut. Semangatnya untuk menyebarkan dan melakukan pemurnian Islam.

Perjuangannya dimulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di Benteng Daludalu. Kemudian ia melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823. Tahun 1824, ia memimpin pasukan gabungan Daludalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing, dan Natal untuk melawan Belanda. Dia sempat menunaikan ibadah haji dan juga diminta oleh Tuanku Imam Bonjol untuk mempelajari perkembangan Islam di Tanah Arab.