“Di sini lengkap, harganya terjangkau, dan lebih dekat dari rumah,” kata Nurian (58), warga Batu 16 yang mengaku rutin berbelanja di Bincen sejak pensiun. Hal senada diungkapkan Sari (45), yang menyebut Bincen sebagai pasar paling praktis sejak ia pindah ke kawasan Hang Lekir.
Lapak Semakin Mahal, Daya Beli Menurun
Di tengah keramaian pasar, para pedagang menyimpan catatan lain: kenaikan biaya sewa. Harga sewa lapak kini mencapai Rp80 juta untuk lima tahun, dan bisa lebih untuk posisi strategis. “Dulu awalnya cuma Rp2 juta per bulan. Sekarang, kalau tidak kuat bayar, ya keluar,” keluh seorang pedagang ikan.
Pengelolaan pasar oleh pihak swasta membuat pedagang menanggung biaya sewa, listrik (Rp90 ribu/bulan), dan kebersihan (Rp100 ribu/bulan), belum termasuk gaji karyawan. Untuk menutup biaya itu, pedagang harus menjual minimal 100–125 kg ikan per hari, hanya agar bisa bertahan.
Gerobakan dan Parkir: Rantai Uang yang Tak Terlihat
Tak hanya dari kios dan lapak, denyut ekonomi juga mengalir lewat jajanan pasar dan gerobakan. Ada sekitar 50 gerobak makanan—dari gorengan, cendol, hingga sate—yang menghidupkan suasana pagi di pasar. Pendapatan mereka tak kalah penting, bisa tembus puluhan juta per bulan.









