Penyuluhan tanpa sarana fisik hanya melahirkan masyarakat yang teredukasi tentang bahaya, namun tidak berdaya saat bencana tiba.
Kepala Desa Toto Projo menyampaikan kebutuhan mendasar yang sangat konkret: titik-titik rawan kebakaran harus dilengkapi sumur bor, embung, pompa, dan gulungan selang. Logikanya sederhana.
Jika sumber air dekat dan peralatan siap di tangan, menit-menit awal kebakaran bisa langsung ditangani sebelum melahap ribuan hektare hutan. Warga tidak lagi menjadi penonton pasrah, melainkan garis pertahanan terdepan.
Dari Way Kambas, para perwira siswa Seskoad belajar meredefinisi konsep pertahanan. Keamanan negara tak melulu soal senapan dan strategi perang, melainkan hadirnya negara menyediakan air saat kemarau dan menjaga udara tetap bersih dari asap.
Rekomendasi pun dirumuskan: pembentukan Satgas Karhutla tahunan yang bersiaga sebelum asap terlihat (periode Juli–Oktober), pemetaan sumber air, pembuatan sekat bakar, hingga pengadaan alat pemadam di tingkat desa.
Hutan tak pernah terbakar karena kekurangan spanduk imbauan. Hutan terbakar karena perpaduan kemarau, kelengahan, dan ketidaksiapan sarana. Sudah saatnya pendekatan berubah. Setelah kata terakhir dalam sosialisasi diucapkan, negara harus meninggalkan pompa dan selang di tangan warga, bukan sekadar lembaran kertas.










