Nusantara

Ketika Brosur Tak Bisa Memadamkan Bara, Catatan Perwira Seskoad dari Rimba Way Kambas

16
×

Ketika Brosur Tak Bisa Memadamkan Bara, Catatan Perwira Seskoad dari Rimba Way Kambas

Share this article
Perwira siswa Seskoad tinjau lokasi kebakaran hutan dan lahan karhutla di Taman Nasional Way Kambas Lampung
Perwira siswa Seskoad tinjau lokasi kebakaran hutan dan lahan karhutla di Taman Nasional Way Kambas Lampung.
banner 468x60

Penyuluhan tanpa sarana fisik hanya melahirkan masyarakat yang teredukasi tentang bahaya, namun tidak berdaya saat bencana tiba.

Kepala Desa Toto Projo menyampaikan kebutuhan mendasar yang sangat konkret: titik-titik rawan kebakaran harus dilengkapi sumur bor, embung, pompa, dan gulungan selang. Logikanya sederhana.

Jika sumber air dekat dan peralatan siap di tangan, menit-menit awal kebakaran bisa langsung ditangani sebelum melahap ribuan hektare hutan. Warga tidak lagi menjadi penonton pasrah, melainkan garis pertahanan terdepan.

BACA JUGA:  Perkuat Tata Kelola Sawit Berkelanjutan, GAPKI dan PWI Dorong Narasi Jurnalistik Berbasis Data

Dari Way Kambas, para perwira siswa Seskoad belajar meredefinisi konsep pertahanan. Keamanan negara tak melulu soal senapan dan strategi perang, melainkan hadirnya negara menyediakan air saat kemarau dan menjaga udara tetap bersih dari asap.

Rekomendasi pun dirumuskan: pembentukan Satgas Karhutla tahunan yang bersiaga sebelum asap terlihat (periode Juli–Oktober), pemetaan sumber air, pembuatan sekat bakar, hingga pengadaan alat pemadam di tingkat desa.

BACA JUGA:  KMP Putri Yasmin Terbakar di Selat Lombok, 1 Meninggal Dunia dan Ratusan Penumpang Dievakuasi

Hutan tak pernah terbakar karena kekurangan spanduk imbauan. Hutan terbakar karena perpaduan kemarau, kelengahan, dan ketidaksiapan sarana. Sudah saatnya pendekatan berubah. Setelah kata terakhir dalam sosialisasi diucapkan, negara harus meninggalkan pompa dan selang di tangan warga, bukan sekadar lembaran kertas.