Nusantara

Ketika Brosur Tak Bisa Memadamkan Bara, Catatan Perwira Seskoad dari Rimba Way Kambas

9
×

Ketika Brosur Tak Bisa Memadamkan Bara, Catatan Perwira Seskoad dari Rimba Way Kambas

Share this article
Perwira siswa Seskoad tinjau lokasi kebakaran hutan dan lahan karhutla di Taman Nasional Way Kambas Lampung
Perwira siswa Seskoad tinjau lokasi kebakaran hutan dan lahan karhutla di Taman Nasional Way Kambas Lampung.
banner 468x60

Api punya kebiasaan buruk. Ia tidak pernah menunggu sebuah rapat selesai. Ia tidak mengenal batas administrasi, tidak membaca surat edaran, apalagi peduli pada spanduk sosialisasi yang terpampang di pinggir jalan. Ketika angin menguat dan vegetasi mengering, api hanya tahu satu kata, menjalar.

Di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, kenyataan itu terhampar telanjang. Sepanjang 2026 hingga akhir Agustus, Balai TNWK mencatat 16 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghanguskan lebih dari 6.900 hektare area. Di Resort Kuala Penet saja, tak kurang dari 1.800 hektare lahan terdampak. Medan bergambut dan jauhnya sumber air membuat api menjadi monster yang sulit dijinakkan.

BACA JUGA:  Pasutri Oknum PNS di Tanjungbalai Digerebek Warga, Diduga Cabuli Anak Yatim Piatu

Di tengah kepulan asap itulah, 14 Perwira Siswa Sesko TNI AD yang didampingi Perwira Penuntun (Patun) Kolonel Inf Hasroel turun ke lapangan dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Wilhan Kodam XXI/Radin Inten.

Mereka datang untuk memetakan pertahanan wilayah. Namun, di antara rimba dan warga Desa Braja, Labuhan Ratu, hingga Rantau Jaya, para calon pemimpin militer ini justru mendapati sebuah pelajaran berharga yang tak tertulis di ruang kelas.

BACA JUGA:  Perkuat Tata Kelola Sawit Berkelanjutan, GAPKI dan PWI Dorong Narasi Jurnalistik Berbasis Data

Pelajaran itu lahir dari sebuah kejujuran warga yang menohok.

“Masyarakat mengaku sudah bosan diberi penyuluhan terus ketika terjadi kebakaran. Yang mereka butuhkan adalah alat untuk memadamkan api,” ujar Kolonel Inf Hasroel, menirukan curahan hati warga sekitar TNWK.

Sebuah keprihatinan yang masuk akal. Selama ini, birokrasi sering kali sibuk mendatangi warga dengan tumpukan brosur, spanduk, dan pidato pencegahan. Namun, saat bara benar-benar menyala, warga dibiarkan berhadapan dengan takdir tanpa perlengkapan memadai. Disuruh sigap, tetapi selangnya tidak ada. Diminta memadamkan, tetapi sumur bornya tak tersedia.

BACA JUGA:  Gempa M7,7 NTT: Korban Jiwa Tembus 38 Orang, BMKG Sebut Gempa Susulan Flores Berpotensi Berlangsung 3 Minggu