Ape KesahBatamZona Headline

Beda Tongkat Nabi Musa Prabowo dan Tongkat Nabi Musa Li Claudia

122
×

Beda Tongkat Nabi Musa Prabowo dan Tongkat Nabi Musa Li Claudia

Share this article
Wakil Wali Kota Batam & Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra. (Foto: BP Batam)
banner 468x60

Pernyataan tentang “Tongkat Nabi Musa” tiba-tiba menjadi metafora politik yang berulang di ruang publik. Menariknya, metafora ini tidak hanya keluar dari mulut Presiden RI Prabowo Subianto, tetapi lebih dulu diucapkan oleh kadernya sendiri di daerah, Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra.

Beberapa bulan sebelum Presiden Prabowo menyampaikan permintaan maaf karena “tidak punya tongkat Nabi Musa” dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Li Claudia Chandra telah lebih dulu melontarkan kalimat serupa saat menyoroti persoalan sampah di Kota Batam.

BACA JUGA:  Wanita Muda Nekat Terjun dari Speed Boat Solop Indah di Perairan Selat Beliah Karimun

Pertanyaannya: kebetulan belaka, atau ada pola narasi yang sama?

Dalam prosesi serah terima jabatan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam pada 3 Maret 2025, Li Claudia Chandra menegur keras jajaran OPD terkait persoalan sampah yang berserakan di jalan protokol Seipanas. Ia menyebut masalah sampah sebagai atensi langsung Presiden Prabowo yang harus dituntaskan daerah.

BACA JUGA:  Dugaan Pemerasan Turis Singapura di Pelabuhan Batam, Oknum Imigrasi Diperiksa Intensif dan Terancam Sanksi Disiplin

Namun di tengah tuntutan penyelesaian cepat itu, Li Claudia menyelipkan kalimat reflektif:

“Beri kami waktu, kami tidak punya tongkat Musa yang apa-apa cepat selesai.”

Kalimat ini muncul sebagai penegasan bahwa pemerintah daerah tidak bekerja dengan mukjizat. Masalah sampah, menurutnya, adalah problem struktural dan nasional, bukan perkara yang bisa dibereskan seketika.

BACA JUGA:  Jejak Rasa Nasi Dagang: Dari Bekal Perantau Abad ke-14 hingga 'Naik Kelas' di Kafe Mewah Batam

Tongkat Nabi Musa di sini berfungsi sebagai metafora keterbatasan birokrasi daerah—sebuah pengakuan bahwa kekuasaan dan kewenangan tidak selalu sebanding dengan ekspektasi publik.

Tongkat Musa Versi Istana: Realisme Kekuasaan Pusat