Berbeda konteks, namun serupa diksi, Presiden Prabowo Subianto menggunakan metafora yang sama saat membahas penanganan bencana dan gangguan infrastruktur di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada Desember 2025.
“Saya minta maaf saya tidak punya tongkat Nabi Musa, saya tidak bisa selesaikan tiga hari, lima hari.”
Di level nasional, Prabowo menggunakan tongkat Nabi Musa sebagai simbol realitas kepemimpinan negara: bahwa presiden sekalipun tidak bekerja dengan keajaiban. Negara butuh waktu, proses, dan kehati-hatian, terutama ketika menyangkut keselamatan rakyat.
Jika Li Claudia berbicara dari sudut keterbatasan daerah, Prabowo berbicara dari sudut tanggung jawab negara.
Ada Benang Merah?
Keduanya punya kesamaan. Prabowo Ketua Umum Gerindra, sementara Li adalah kader di daerah. Keduanya menggunakan simbol religius yang kuat. Dan keduanya menggunakannya untuk meredam ekspektasi berlebihan publik.
Namun, perbedaannya jelas.
Li Claudia menggunakan “Tongkat Nabi Musa” untuk menjelaskan mengapa masalah belum tuntas.
Prabowo menggunakan metafora yang sama untuk menjelaskan mengapa masalah tidak bisa dituntaskan secara instan.
Satu bersifat defensif-administratif, satu lagi bersifat strategis-politis.













