“Masalahnya sebenarnya bukan pada keterbatasan armada. Lihat bengkel di Baloi Mas itu, sekitar 30 unit armada pengangkut sampah tengah dalam perbaikan. Kenapa bisa begitu? Selama ini anggaran perbaikan kemana?” cetus Yusril.
Menurutnya, penambahan armada baru bukan solusi jangka panjang jika tata kelola sampah tidak diperbaiki. Bahkan, ia menyinggung bahwa dirinya pun bisa membeli armada baru, tetapi tanpa perubahan sistem, persoalan tetap berulang.
Sampah di Batam Beraroma Korupsi?
Yusril juga menyinggung dugaan adanya praktik korupsi dalam pengelolaan sampah di Batam. Ia menuding kebocoran retribusi sampah serta pengadaan truk dan becak pengangkut yang sarat dengan kongkalingkong.
“Sampah di Batam ini beraroma korupsi. Retribusi sampah bocor. Pengadaan armada pengangkut sampah seperti truk dan becak sarat korupsi dan kongkalingkong. Harusnya pak dewan baca lagi soal aturan. Banyak yang menyimpang,” ujarnya tegas.
Sebagai solusi, Yusril menyarankan agar pengelolaan sampah diserahkan ke pihak swasta. Ia berargumen bahwa saat pengelolaan masih di tangan swasta, permasalahan seperti penumpukan sampah di ruang milik jalan (rumija) tidak terjadi.
“Coba bandingkan, saat pengelolaan sampah diserahkan ke swasta, masalah penumpukan sampah seperti saat ini tidak akan terjadi,” tambahnya.













