Gudangberita.co.id, Batam – Berbicara tentang Biological Diversity atau keragaman hayati di kawasan Geopark Natuna memang tiada habisnya. Selama ini, sebagian besar masyarakat luas hanya akrab dengan Kekah (Presbytis natunae) sebagai primata endemik khas yang mendiami wilayah Gunung Ranai, Tapau, dan Sekunyam di Pulau Bunguran.
Namun siapa sangka, jauh di bagian selatan Kabupaten Natuna, tepatnya di Pulau Subi dan Pulau Serasan, terdapat satwa endemik lain yang tidak kalah menakjubkan. Warga setempat menyebutnya dengan nama “Mbing”. Hewan unik bernama latin Tarsius bancanus natunensis ini merupakan salah satu primata terkecil di dunia.
Berdasarkan penuturan sejumlah masyarakat Subi, Mbing Natuna tergolong sebagai hewan nokturnal yang aktif berburu serangga pada malam hari di kawasan hutan Pulau Subi Besar.
Secara fisik, hewan ini sangat menggemaskan dengan panjang tubuh hanya berkisar 12-15 cm. Bobot tubuhnya pun sangat ringan, yakni sekitar 128 gram untuk jantan dan 117 gram untuk betina, dibalut bulu lembut berwarna coklat kemerahan hingga jingga kekuningan. Keunikan utamanya terletak pada bagian ekor yang panjangnya mencapai 18-22 cm, melampaui panjang tubuhnya sendiri.
Meskipun memiliki potensi ekologis dan daya tarik yang luar biasa bagi keragaman hayati Geopark Natuna, keberadaan primata kecil ini justru sedang menghadapi ancaman besar. Minimnya data riset membuat Mbing Natuna luput dari perhatian publik, padahal statusnya sudah sangat mengkhawatirkan.













