Gudangberita.co.id, Batam – Masih terekam jelas dalam ingatan publik pada tahun 2022 silam, sebuah seremoni digelar. Di bawah terik matahari, Kepala BP Batam (saat itu), Muhammad Rudi bersama jajaran Forkopimda Kepri, mulai dari Wagub Marlin Agustina hingga Kapolda Kepri saat itu, mengayunkan cangkul, menanam bibit Jati Emas (Tectona grandis var.).
Sebanyak 12.000 bibit jati emas disiapkan untuk memagari jalur Laluan Madani hingga Nongsa. Proyek ini bukan sekadar penghijauan, melainkan janji politik “Batam Green City” yang didukung penuh oleh 43 perusahaan swasta.
Namun, empat tahun kemudian, optimisme yang ditanam dalam seremoni itu runtuh seketika oleh tebasan parang seorang pria yang sedang dirundung depresi ekonomi.
Kala itu, Muhammad Rudi optimistis bahwa jati emas akan membuat pengguna jalan nyaman dan sejuk. “Dua bulan ke depan perlu disiram terus hingga jati emas ini bisa tumbuh sendiri,” ujarnya pada 2022. Ia bahkan memastikan lokasi penanaman di antara jalan protokol dan jalur lambat sudah sesuai rencana agar tidak terdampak pelebaran jalan di masa depan.
Namun, visi “sejuk” tersebut sempat berbenturan dengan realitas ekologis. Aktivis lingkungan dari Akar Bhumi Indonesia (ABI), Hendrik Hermawan, sejak awal sudah menyuarakan keraguan. Jati emas, yang secara genetik merupakan pohon produksi, memiliki sifat meranggas total.













