BatamZona Headline

Ketua Baru PWI Batam Gerak Cepat: Prioritaskan Etika Jurnalistik di Tengah Konflik Agraria

994
×

Ketua Baru PWI Batam Gerak Cepat: Prioritaskan Etika Jurnalistik di Tengah Konflik Agraria

Share this article
Ketua PWI Batam M. Kavi Ansary, menggelar pembekalan etika jurnalistik dan keselamatan wartawan, Senin (12/5/2025). (Dok. PWI Batam)
banner 468x60

Gudangberita.co.id, Batam – Di tengah meningkatnya eskalasi konflik agraria di Batam, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam langsung tancap gas.

Hanya lima hari setelah dilantik, Ketua PWI Batam, M. Kavi Ansary, menggelar pembekalan etika jurnalistik dan keselamatan wartawan, Senin (12/5/2025).

Langkah ini dinilai sebagai respons cepat terhadap tantangan profesi jurnalistik di tengah era digital yang sarat tekanan, hoaks, dan polarisasi opini publik.

BACA JUGA:  Mencekam! Buaya Muara 4 Meter Muncul di Pemukiman Warga Sungai Pinang Lingga, Korban Masa Lalu Menghantui

Acara yang digelar di Sekretariat PWI Batam, kawasan Imperium Superblock, Batam Kota ini difokuskan pada penguatan pemahaman Kode Perilaku Wartawan (KPW), terutama dalam peliputan isu-isu sensitif seperti konflik agraria.

“Langkah awal ini bukan hanya untuk membekali, tapi menguatkan posisi wartawan sebagai pilar informasi yang kredibel dan berintegritas,” ujar Kavi dalam sambutannya.

BACA JUGA:  Berawal dari Komentar Daging Babi, Pria di Batam Berakhir di Sel karena Hina Suku Melayu

Fokus Etika, Bukan Sensasi

Hadir sebagai narasumber utama, Denni Risman, Wakil Ketua Bidang Mediasi Siber PWI Pusat, menekankan tiga prinsip utama dalam meliput konflik sebagaimana tercantum dalam Bab IV Pasal 5 KPW:

  • Identifikasi diri secara jelas sebagai wartawan,
  • Tidak menunjukkan keberpihakan secara visual atau simbolik,
  • Menjaga jarak aman saat meliput aksi massa atau konflik.
BACA JUGA:  Duka di Balik Dua Jengkal Tanah: Diana, Sang Yatim Piatu yang Berjuang Hijrah di Tengah Badai Hidup

“Wartawan adalah penjaga fakta, bukan bagian dari konflik,” tegas Denni. Ia merujuk pada insiden nyata di Baloi Kolam, Lubuk Baja, di mana wartawan sempat berada dalam situasi rentan saat meliput bentrok antara warga dan aparat.