Cen juga menyoroti pentingnya koordinasi intensif dengan pemerintah pusat dan peningkatan infrastruktur pengawasan laut. Menurutnya, masyarakat pesisir perlu dilibatkan secara aktif dalam sistem keamanan maritim.
Dalam sesi tanya jawab, Bupati Natuna juga menyampaikan pandangannya terhadap dinamika geopolitik di Laut Natuna Utara. Ia menekankan perlunya pemanfaatan teknologi maritim dan penguatan pos pemantauan untuk mencegah pelanggaran ZEE serta berbagai ancaman keamanan lainnya.
“Natuna bukan hanya perbatasan, tapi juga garda depan pertahanan maritim kita. Pengawasan laut harus berbasis data, teknologi, dan partisipasi masyarakat,” tegas Cen.
Ketua Tim Peneliti Seskoal menyambut baik masukan dari pemerintah daerah, yang dinilai memberikan perspektif lapangan yang krusial dalam perumusan strategi nasional pertahanan laut.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian riset dan pengumpulan data strategis yang dilakukan TNI AL melalui Seskoal, guna menyusun model strategi pertahanan laut adaptif dan berbasis pada kondisi geografis serta dinamika aktual di wilayah-wilayah perbatasan.
Sebagai informasi, Laut Natuna Utara merupakan salah satu kawasan laut yang paling rawan dalam konteks geopolitik Asia Tenggara. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah ini kerap mengalami pelanggaran ZEE oleh kapal asing, termasuk kapal penangkap ikan dan coast guard negara lain.













