Virdika juga menduga bahwa ada agenda tersembunyi dalam kegiatan ini yang bisa berdampak pada politik 2029. Menurutnya, retret ini bertujuan untuk mengidentifikasi loyalitas kepala daerah, membangun jaringan politik hingga menekan potensi oposisi di tingkat daerah.
Respons Pemerintah: Fokus pada Kedisiplinan
Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menegaskan bahwa retret di Akmil Magelang tidak bertujuan untuk menjadikan kepala daerah berpikir militeristik.
Sebaliknya, kegiatan ini dirancang agar kepala daerah bisa belajar nilai-nilai penting seperti kedisiplinan dan ketepatan waktu.
“Kita belajar dari Akmil bukan soal militeristiknya, tapi ada nilai-nilai penting yang juga berlaku di dunia swasta, seperti disiplin dan ketepatan waktu,” ujar Tito dalam keterangannya usai membuka acara pada Sabtu (22/2/2025).
Mendagri berharap, setelah retret ini, kepala daerah bisa menerapkan kedisiplinan di lingkungan kerja mereka. Selain itu, aspek kebersihan dan keteraturan juga menjadi bagian dari pembelajaran yang diterapkan dalam kegiatan tersebut.
Dengan dua pandangan yang bertolak belakang ini, polemik seputar Retret Kepala Daerah 2025 diperkirakan akan terus berlanjut.







