Gudangberita.co.id, Anambas – Kehadiran serpihan raksasa yang diduga kuat berasal dari roket pendorong (booster) Tiongkok di perairan Anambas bukan sekadar urusan sampah laut biasa. Penemuan ini menjadi sinyal merah bagi kedaulatan wilayah udara dan laut Indonesia, khususnya di wilayah strategis Kepulauan Riau.
Hingga Selasa (21/4/2026), masyarakat dan pemerhati pertahanan menanti sikap tegas pemerintah pusat atas berulangnya insiden jatuhnya material antariksa asing di teritorial NKRI tanpa peringatan dini yang memadai.
Benda logam masif ini ditemukan pertama kali oleh Andri, seorang nelayan lokal, pada Sabtu (18/4/2026) di posisi 14 mil dari Desa Nyamuk. Kesaksiannya menggambarkan betapa besarnya ancaman fisik yang mengintai.

“Satu serpihan saja ukuran lebih besar dari pompong kami. Saye nak tarik bawa ke naik, bahaya juga karena ukurannya lebih besar,” ungkap Andri kepada Gudangberita.
Keberadaan objek ini jalur yang sangat aktif dilalui nelayan dan kapal niaga—merupakan ancaman nyata bagi keselamatan navigasi. Jika benda seberat itu menghantam kapal nelayan atau jatuh di kawasan pemukiman, dampaknya dipastikan fatal.
Analisis linimasa menunjukkan pola yang sangat identik dan sistematis. Pada 7 April 2026, cahaya terang melintas melambat di langit Serasan dan Pulau Tiga, Natuna. Dua minggu kemudian, puing logam dengan bekas terbakar ditemukan di Anambas.







