Berdasarkan pendataan Dinas Ketahanan Pangan, bantuan beras reguler tersalurkan sebagai berikut:
- Serasan: 57 KK — 570 kg
- Serasan Timur: 62 KK — 620 kg
- Subi: 29 KK — 290 kg, ditambah 1 ton SPHP
- Midai: 94 KK — 940 kg
- Suak Midai: 46 KK — 460 kg, ditambah 1,5 ton SPHP untuk Gerakan Pangan Murah
- Pulau Panjang: 36 KK — 360 kg
Distribusi tambahan beras SPHP difokuskan untuk Subi dan Pulau Panjang—dua wilayah yang paling rentan terputus pasokan akibat jarak dan gelombang tinggi.
Pulau Panjang kembali menjadi sorotan karena proses distribusi yang membutuhkan kerja ekstra. Tanpa dermaga besar, bantuan harus diturunkan dari kapal feri Pemda ke pompong nelayan sebelum dibawa ke bahu-bahu warga melalui sistem gotong royong.
Rantai logistik yang panjang itu justru menjadi bukti komitmen Pemerintah Kabupaten Natuna untuk memastikan tidak satu pun pulau terluar tertinggal dalam pemenuhan kebutuhan pokok.
Gerakan pangan murah yang digelar bersamaan dengan kunjungan kerja ini ditujukan untuk menekan gejolak harga beras dan komoditas pokok lainnya, terutama menjelang puncak musim angin Utara.
Dengan langkah terintegrasi—distribusi beras, pemantauan stok, bantuan pangan komplementer, hingga stabilisasi harga—Pemkab Natuna menegaskan bahwa pembangunan di wilayah terluar bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal memastikan setiap rumah tangga aman dari ancaman kerawanan pangan.













