“Mati loh iku nek diterusno. Temen iku mati, saya yakin gak suwe mati iku di jejelno nang banyu ngono. Mati nggak iso ambegan. (Mati loh itu kalau diteruskan. Beneran mati itu, saya yakin nggak lama mati itu dimasukkan ke air gitu. Mati nggak bisa bernapas),” kata wanita tersebut.
Keluarga bukan tak mengenali sosok pemuda yang berkelahi dengan Ahmad tersebut. Mereka kenal. Malah sangat kenal. Pemuda yang membabi buta menghajar Ahmad itu tak lain adalah Fahrudin. Keduanya bersahabat sejak kecil.
Berdasar video itu keluarga melapor ke Polsek Bungah. Oleh polsek, laporan itu kemudian diteruskan ke Sat Reskrim Polres Gresik.
Dari laporan tersebut, polisi bergerak cepat untuk menguak penyebab kematian Ahmad. Makam Ahmad lantas dibongkar pada Minggu (24/12). Jenazahnya lalu diautopsi di RSUD Ibnu Sina Gresik.
Di tengah proses autopsi berjalan, rupanya Fahrudin berusaha merangkai alibi. Minggu malam, dia datang takziah ke rumah Ahmad. Fahrudin ikut tahlil sembari memberikan santunan uang duka.
Kala itu Fahrudin mengaku kepada keluarga Ahmad jika dia sempat menolong sahabatnya yang kecelakaan. Tentu saja keluarga Ahmad tak percaya. Namun, mereka membiarkan Fahrudin mengarang cerita. Fahrudin tak tahu bahwa keluarga Ahmad sudah mendapatkan video perkelahian di parit tersebut.













