Diperkenalkan Penjajah Portugis
Kebaya Labuh dipakai dalam seni pertunjukan di masyarakat Riau, diajukan sebagai warisan budaya tak benda secara single nomination ke UNESCO. (Dok: Instagram @sanggarlembayungtanjungpinang)
Para Wanita Melayu terutama dibagian selatan Semenanjung Melayu mulai memakai Kebaya Labuh sebagai busana keseharian mereka. Diperkirakan Kebaya barasal dari bahasa Turki yaitu “Al Akibiya Al Turkiya” yang artinya Baju Turki yang berbelah dan lipatannya selisih serong didepankekiri dan kekanan.
Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa baju ini dikenalkan oleh Portugis yang datang ke Melaka pada awal abad ke-16. Setelah Portugis menjajah Melaka terdapat tampilan sejenis baju Labuh (Panjang) khas bangsa mereka yang terbuka di depan seperti yang dipakai oleh para wanita Portugis, dan gaya baju ini disenangi oleh wanita di Pantai Timur Semenanjung dan Johor-Riau Pahang.
Berdasarkan perkiraan tersebut maka Baju Kebaya Labuh dapat dianggap sebagai salah satu pakaian wanita yang tertua di tanah Melayu. Baju Kebaya Labuh disebut juga dengan Baju Belah Labuh Besar.
Selanjutnya: Digunakan dalam Pertunjukan Seni..

Kebaya ini juga dianggap sebagai pakaian yang menerima unsur-unsur budaya Asia Barat, karena sekali pandang seakan-akan baju ini seperti “Djubba” di Mesir. Di seluruh Tanah Melayu pemakaian Baju Kebaya Labuh sangat menonjol di tahun 1800-an pada semua peringkat usia baik masyarakat China maupun Keling.
Diterimanya baju Kebaya Labuh ini pada zaman itu kemungkinan besar bertujuan untuk memenuhi citarasa masyarakat Melayu. Hal ini tak lain karena bercirikan kesopanan disamping juga potongan yang menarik dan sesuai dengan kemauan budaya masyarakat kala itu.
Saat ini menurut Mellyani penggunaan kebaya labuh oleh generasi senior biasa dipakai pada acara Idul Fitri maupun pada momentum resepsi pernikahan. Penggunaan kebaya labuh sehari-hari memenuhi unsur Warisan Budaya Tak Benda karena kebaya labuh dipakai dan dilestarikan dalam seni pertunjukan di Riau yaitu tari wajibnya seperti tari Persembahan Makan Sirih sebagai tarian sambutan tamu di daerah dan kearifan lokal setempat.












