“Saat itu saya masih di Marok Tua, saya WA Jaka. Tapi setelah itu dia tidak angkat telepon dan tidak balas WA lagi,” lanjut Nanang.
Menghilangnya Jaka di saat kritis ini menjadi teka-teki besar bagi pihak kepolisian. Ponsel yang mendadak tidak aktif memperkuat dugaan bahwa kepergiannya ke luar pulau bukan sekadar kunjungan keluarga, melainkan upaya melarikan diri.
Meski Jaka mencoba membangun narasi kepergian yang wajar, hasil medis berkata lain. Kapolres Lingga, AKBP Pahala M Nababan, membeberkan fakta forensik yang mematahkan asumsi kematian wajar. Diana tidak sekadar meninggal, ia diduga kuat dihabisi.
Forensik mencatat adanya patah tulang lidah akibat kekerasan tumpul di leher—sebuah kondisi yang membuat korban mati lemas secara perlahan. “Berdasarkan pola dan gambarannya, luka pada leher tersebut sesuai dengan kasus cekik,” tegas AKBP Pahala.
Informasi tambahan menyebutkan bahwa hubungan Jaka dan Diana memang berada di ujung tanduk. Meski baru setahun hidup bersama, Diana tercatat sudah tiga kali mencoba melarikan diri dari sisi Jaka. Nanang bahkan sempat menasihati adiknya untuk merelakan Diana jika memang sudah tidak ada kecocokan.
Kini, tim Satreskrim Polres Lingga terus melacak keberadaan Jaka. Apakah ia benar-benar berada di Subang atau justru bersembunyi di lokasi lain untuk menghindari jerat hukum?











