Menariknya, kecemasan serupa tidak perlu mampir ke deretan gedung canggih dan ruang server dingin di Nongsa Digital Park. Denny buru-buru meluruskan anggapan bahwa kawasan bisnis tersebut akan ikut kehausan bersama warga sekitar.
NDP dipastikan aman tenteram karena dipasok dari raksasa air baku Batam, Waduk Duriangkang, sedangkan Waduk Nongsa sekadar pajangan penunjang (support).
Artinya, ketika keran di dapur warga Nongsa hanya mengeluarkan angin, arus data dan lalu lintas digital di kawasan bisnis dipastikan tetap mengalir deras tanpa kendala hidrasi.
Sebagai penawar dahaga jangka panjang, BP Batam menyodorkan rangkaian rencana besar: mulai dari pembangunan IPA Sei Ladi berkapasitas 50 liter per detik hingga wacana megah mengolah air laut lewat teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).
Sayangnya, teknologi canggih penyulingan air laut itu masih berstatus rencana masa depan yang belum bisa dipakai untuk menyiram tanaman atau mandi pagi warga besok.
Maka, sembari menunggu proyek-proyek tersebut wujud, beban penyusutan waduk diserahkan kembali ke pundak masyarakat lewat imbauan moral.
“Kami mengajak masyarakat bersama-sama menjaga ketersediaan air dengan tidak menggunakan air secara berlebihan, memastikan tidak ada kebocoran, dan menghindari pemborosan,” kata Denny mengakhiri penjelasannya.













