Kondisi ini menuntut pengelolaan Daerah Tangkapan Air (DTA) di delapan waduk Batam dilakukan secara ekstra ketat. Jika digitalisasi dan inovasi teknologi terlambat diterapkan, ancaman defisit air berpotensi menjadi blunder yang bisa mengusir investor kakap dari Batam.
Menjembatani ‘Valley of Death’ Riset dan Industri
Kerja sama yang ditargetkan berlangsung selama tiga tahun ke depan ini tidak hanya di atas kertas. Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa kolaborasi ini harus mampu memecahkan masalah klasik riset di Indonesia, yakni valley of death—di mana hasil riset seringkali mandek dan gagal diterapkan di dunia nyata.
“BRIN ingin menjadi think tank dengan membantu mengidentifikasi persoalan dan menawarkan solusi berbasis teknologi. Riset harus menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan industri dan masyarakat,” kata Arif.
Arif berharap, kepastian pasokan air dan adopsi teknologi hijau hasil riset ini nantinya bisa menjadi magnet kuat untuk menarik volume investasi yang lebih besar ke Batam.
Daftar Target Riil Kolaborasi BP Batam dan BRIN
Berdasarkan peta jalan (roadmap) yang telah disusun, kolaborasi ini akan melibatkan tujuh tim riset dari lima pusat riset BRIN, serta tiga unit teknis dari BP Batam.













