Sementara itu, spanduk-spanduk penolakan mulai dibentangkan. Kalimat-kalimat seperti “Kami Pemilik Ruko Tanah Mas, Menolak Keras Pembangunan dalam Bentuk Apapun di Depan Ruko Milik Kami” menjadi saksi perlawanan mereka.

Di balik tiang-tiang itu, tersimpan harapan kecil untuk perubahan. Sunaryo, Erwin, dan rekan-rekannya tidak menolak pembangunan.
Mereka hanya ingin keberlangsungan usaha mereka tetap diperhatikan. Sebab bagi mereka, ruko-ruko itu bukan sekadar bangunan usaha, melainkan ruang kehidupan.
Di tengah keramaian kota yang terus bertumbuh, suara dari pemilik ruko ini memohon untuk didengar. Sebuah permintaan sederhana: ruang yang adil, peluang yang setara, dan keberlanjutan usaha tanpa penghalang.
Karena pada akhirnya, setiap pagar yang dibangun tak hanya memisahkan ruang, tetapi juga menguji batas kemanusiaan.








