Kejanggalan berikutnya ada pada status hari pelaksanaan. Minggu adalah hak anak untuk rekreasi dan beristirahat. Namun, kehadiran ribuan massa berseragam ini rupanya bukan atas dasar inisiatif pribadi yang muncul saat mereka sedang bersantai di rumah.
Mayoritas pelajar mengaku hanya “mengikuti arahan sekolah.” Mereka dijemput dan dimobilisasi menggunakan kendaraan yang sudah disiapkan khusus oleh pihak sekolah. Bahkan, kertas-kertas bertuliskan “Terima Kasih Presiden Prabowo” atau “MBG Bermanfaat bagi Pelajar” yang mereka pegang erat-erat, diakui bukan hasil kreativitas sendiri.
“Tulisan disiapkan OSIS,” tutur salah satu siswa.
Mengingat hampir seluruh sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Batam mengirimkan perwakilannya, sulit untuk tidak mencium aroma mobilisasi struktural yang memanfaatkan kepatuhan siswa kepada gurunya.
Di atas mimbar, orator dengan suara lantang membakar semangat massa. “Program MBG sangat bermanfaat, jadi mari kita dukung! MBG yes, yes, yes!” serunya. Di sela-sela yel-yel, sang orator juga menyelipkan pesan agar kasus dugaan korupsi pengelolaan MBG tetap diusut, namun programnya jangan sampai dihentikan.
Di titik inilah letak ketidakwajaran paling kritis. Isu yang sedang mendera program MBG saat ini adalah masalah hukum, tata kelola anggaran, dan dugaan korupsi, ranah super berat yang merupakan urusan orang dewasa.













