Melibatkan anak-anak di bawah umur, yang bahkan belum paham apa itu fungsi anggaran atau audit negara, ke dalam pusaran konflik publik jelas terasa dipaksakan. Mereka diduga kuat sengaja dijadikan “tameng hidup” secara visual demi membangun narasi ke tingkat pusat bahwa program ini “didukung penuh oleh anak-anak,” sekaligus meredam kritikan publik yang tengah menuntut evaluasi total akibat kasus hukum tersebut.
Catatan Akhir Pagi Ini
Mendukung program pemerintah yang berniat baik tentu sah-sah saja. Namun, memanfaatkan jalur birokrasi sekolah untuk menggerakkan anak-anak di hari libur, membiarkan mereka kelaparan demi sebuah seremonial, dan menyeret mereka ke dalam isu korupsi dewasa terasa seperti langkah yang kebablasan.
Aksi di Batam pagi ini tidak lagi terlihat seperti aspirasi jujur dari generasi muda, melainkan sebuah koreografi politik yang rapi.
Sembari Anda menyeruput sisa kopi di cangkir pagi ini, satu pertanyaan menggelitik tertinggal di udara: Setelah aksi selesai dan kamera wartawan dimatikan, apakah anak-anak yang mengantuk dan kelaparan ini akhirnya diberi sarapan yang benar-benar bergizi, atau justru dibiarkan pulang dengan perut yang makin keroncongan?













