Jurnalis Senior, Solaeman Sakib misalnya, mempertanyakan ukuran kemajuan versi Bahlil tersebut, dalam hal ini pemerintah.
“Ukuran kemajuan versi Bahlil itu apa sih? Logikanya gini. Jika rempang dikosongkan, ditaro lah investor siapapun dari China atau dari mana. Kemudian angka-angka matematisnya naik, tidak bisa diklaim rempang meningkat loh. Karena masyarakatnya kan udah nggak ada, itu yang saya bilang, ini kacau nih,” sindirnya.
“Itu kan ucapan salah satu tokoh yang disampaikan Bahlil..” timpal host acara.
“Kita kan nggak tahu, betul apa enggak, apa emang direkam. Bahlil mengutipnya, disampaikan di media di DPR. Sekarang kalau pakai logika untung, bisa sewain aja semua. Kalau perlu presiden kita sewa juga, siapa yang sukses, bisa digaji sebagai CEO, kalau ukurannya itu. Daripada capek capek pemilu ya kan?” ucapnya.
Eks Kepala Intelijen Stategis (BAIS), Soleman B Ponto yang juga hadir dalam podcast teringat hal serupa yang kini juga dihadapi warga di Pulau Sangir, begitu juga menurutnya yang dialami warga di Rempang.
“Saat ini warga di Sangir sedang bertempur dengan Menteri ESDM soal pertambangan emas 46 ribu hektere di sana. Ada 80 desa yang terimbas. Padahal masyarakat pulau merasa ‘kami ada dari dulu. Kami bisa hidup menjaga keseimbangan antara alam yang menghidupi kami, dan kami memanfaatkan alam. Itu kalau di pulau-pulau,” ucapnya.













