BatamKomunitasLingkunganZona Headline

Hilangnya Benteng Terakhir Pesisir Batam: Seruan dari Tanjung Piayu di Hari Mangrove Sedunia

55
×

Hilangnya Benteng Terakhir Pesisir Batam: Seruan dari Tanjung Piayu di Hari Mangrove Sedunia

Share this article
NGO Akar Bhumi Indonesia (ABI) bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Hilangnya benteng terakhir pesisir Batam”, di Tanjung Piayu, Batam, Jumat malam 25 Juli 2025.
banner 468x60

Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan, tata ruang yang tak jelas, dan pola pembangunan yang merampas ruang hidup nelayan.

Ancaman Nyata: Banjir Rob, Abrasi, dan Arang Ilegal

Karmawan, Koordinator Polisi Kehutanan KPHL Unit II Batam, menyatakan bahwa dari total sekitar 17 ribu hektare kawasan mangrove di Batam, sebagian besar justru berada di APL (Areal Peruntukan Lain) yang minim pengawasan.

BACA JUGA:  Cegah Korban Tenggelam, Polsek Bunguran Timur Beri Warning Khusus Orang Tua di Pantai Piwang

Ia menyebut tantangan serius berupa:

  • Pembalakan liar
  • Penyelundupan kayu mangrove
  • Penebangan untuk produksi arang bakau ilegal
  • Banjir rob dan intrusi air laut

“Kami tak punya kewenangan menindak di luar kawasan hutan. Kolaborasi lintas lembaga sangat penting,” ujarnya.

Ketua AJI Batam, Yogi Eka Sahputra, menyebut diskusi ini lahir dari keprihatinan jurnalis saat meliput rusaknya mangrove akibat reklamasi dan arang bakau.

BACA JUGA:  Strategi TLKM 30 Moncer, Telkom Cetak Pendapatan Rp37,2 Triliun di Kuartal I-2026

Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, AJI dan ABI meluncurkan beasiswa liputan isu lingkungan sebesar Rp2 juta untuk dua jurnalis terpilih. Pendaftaran diperpanjang hingga akhir bulan ini.

“Kami ingin peringatan Hari Mangrove Sedunia bukan hanya seremonial, tapi menjadi momen refleksi dan aksi nyata,” kata Yogi.

Pemerintah Akui Tantangan: Dana Minim, Tekanan Maksimal

BACA JUGA:  Jembatan Marok Kecil Jadi Bancakan, Negara Tekor Rp738 Juta Gara-Gara Modus 'Pinjam Bendera'

Kepala Seksi Rehabilitasi Hutan dan Lahan, Bagus Dwi Rahmanto, mengakui bahwa rehabilitasi mangrove menghadapi berbagai kendala.

“Mangrove menyimpan karbon 4–5 kali lebih banyak dari hutan daratan. Tapi tekanan pembangunan, dana terbatas, dan pengawasan lemah jadi tantangan utama,” ungkapnya.